Memahami Pariwisata Di Desa Mangli Melalui Perspektif “Tourist Gaze”

Pada era modern saat ini fenomena pariwisata menjadi salah satu yang menarik untuk dibahas, karena pariwisata juga menjadi salah satu sektor yang membangkitkan sektor perekonomian, terutama di wilayah wisata tersebut. Desa Mangli adalah salah satu tempat wisata yang bertempat di Magelang, tepatnya di kecamatan Kaliangkrik. Wisatawan dapat melihat pemandangan alam yang indah dan juga kearifan lokal di dalam Desa Mangli, hingga saat ini Desa Mangli sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara. Melalui artikel ini, penulis akan membahas terkait fenomena pariwisata di desa mangli yang nantinya akan dilihat melalui sudut pandang sosiologi, yakni perspektif Tourist Gaze.

  • Desa Mangli Sebagai Destinasi Wisata
    Pada beberapa tahun terakhir, Desa Mangli sering dikunjungi oleh wisatawan baik dari masyarakat lokal maupun dari mancanegara. Hal ini dikarenakan, desa Mangli terletak di daerah pedesaan yang memiliki potensi alam yang indah, budaya, juga kearifan lokal, sehingga dengan banyaknya hal yang dapat digali untuk dilihat membuat para wisatawan menjadi tertarik untuk mengunjungi desa Mangli. 

    Dengan banyaknya wisatawan yang mengunjungi Desa Mangli, membuat masyarakat setempat membangun homestay, kafe, dan tempat wisata lainnya guna memenuhi kebutuhan para wisatawan yang berkunjung. Hal ini tentunya memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar dan juga desa Mangli, akan tetapi dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung pula memberikan beberapa dampak negatif pada sisi sosial masyarakatnya, yakni perubahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat di Desa Mangli. Sehingga, dalam hal ini perspektif Tourist Gaze ini dapat membantu dalam proses memahami fenomena yang terjadi pada pariwisata di Desa Mangli dan juga bagaimana sudut pandang wisatawan dapat membentuk persepsi terkait desa Mangli. 
  • Perspektif Tourist Gaze
    John Urry yang merupakan sosiolog asal Inggris yang mengemukakan perspektif Tourist Gaze pada tahun 1990. Melalui perspektif ini, John Urry mengemukakan bahwa wisatawan memiliki cara pandang yang khas ketika mengunjungi tempat wisata (Siregar & Kusumawati, 2020). Sudut pandang yang dimiliki oleh wisatawan tersebut dapat terjadi karena adanya informasi yang didapatkan dari berbagai sumber, seperti media sosial, stigma yang melekat, dan juga ekspektasi wisatawan ketika akan berkunjung.

    Dalam kaitannya di Desa Mangli, perspektif Tourist Gaze dapat digunakan guna melihat dan juga memahami wisatawan yang akan berkunjung ke Desa Mangli. Dapat digunakannya perspektif Tourist Gaze dikarenakan, beberapa waktu kebelakang banyak wisatawan yang berkunjung ke banyak tempat wisata, salah satunya Desa Mangli. Sehingga, wisatawan sudah mencari informasi terlebih dahulu sebelum mengunjungi Desa Mangli, seperti melihat informasi melalui media sosial, internet, dan kerabat masing-masing terkait keindahan alam, budaya setempat, juga masyarakat sekitar. Sehingga wisatawan telah memiliki sudut pandang sendiri terkait tempat yang akan dikunjungi. 
  • Dampak Tourist Gaze di Desa Mangli.
    Melalui perspektif Tourist Gaze masyarakat di Desa Mangli memiliki beberapa dampak sosial dan juga budaya, yakni: 
    • Budaya yang Dikomersialisasi.
      Dalam aspek memenuhi ekspektasi para wisatawan, masyarakat Desa Mangli mungkin akan condong untuk menghidupkan kembali tradisi dan aktivitas budaya yang sebelumnya jarang atau bahkan sudah tidak dilakukan lagi. Hal ini akan menjadi kesempatan bagi para masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan perekonomian melalui pertunjukan budaya atau kerajinan tangan yang dijual sebagai kenang-kenangan. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa terlalu banyak aspek komersialisasi dapat mengurangi nilai asli dari warisan budaya yang ada.
    • Adaptasi dengan Wisatawan.
      Dengan berkembangnya potensi wisata yang ada di Desa Mangli, masyarakat di Desa Mangli akan menyesuaikan pola hidup juga aktivitas harian mereka. Seperti contoh, para masyarakat akan lebih banyak dan sering membuka homestay, kafe, juga tempat oleh-oleh guna menunjang wisatawan yang hadir dan menarik wisatawan lain untuk berkunjung. Sehingga, dengan adanya perkembangan yang seperti diatas memberikan dampak pada perubahan struktur sosial juga sumber pendapatan masyarakat.
    • Identitas dan Penyesuaian Diri.
      Ekspektasi pandangan wisatawan terhadap Desa Mangli bisa berpengaruh pada cara masyarakat lokal melihat identitas mereka sendiri. Dalam beberapa situasi, mereka mungkin merasa bangga dengan warisan budaya mereka dan berusaha memeliharanya. Namun, di lain kesempatan, ada kemungkinan bahwa penduduk desa merasa tertekan untuk “mengiklankan” citra tertentu kepada wisatawan, yang pada akhirnya dapat merusak kesucian budaya mereka.

      Dalam mengelola dampak positif dan negatif dari perspektif Tourist Gaze seperti yang telah dijelaskan di atas, terdapat beberapa langkah dapat diambil oleh perangkat desa dan masyarakat Desa Mangli dalam mengelolanya, salah satunya dengan melakukan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan guna melakukan pelestarian lingkungan di pariwisata desa Mangli, lalu meningkatkan pendidikan dan pelestarian budaya pada masyarakat dan karang taruna guna melestarikan pemahaman terkait budaya setempat, dan yang terakhir mengikutsertakan masyarakat dalam mengambil keputusan di ranah pariwisata, sehingga masyarakat dapat belajar mengendalikan usaha pariwisata. 

      Dengan demikian, perspektif Tourist Gaze ini memberikan pemahaman yang berharga terkait bagaimana pandangan wisatawan dapat mempengaruhi fenomena pariwisata di Desa Mangli. Dengan pengelolaan yang bijaksana dan berkelanjutan, pariwisata dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat Desa Mangli tanpa merusak identitas budaya yang ada.

Referensi:

Siregar, A. M., & Kusumawati, A. (2020). City Branding and The Tourist Gaze: Pengembangan Wisata Kota. Jurnal Administrasi Bisnis, 14–23. https://profit.ub.ac.id